Kisah Anak Jalanan

“bang Alfi…LARI !! LARI !!!”, teriak Desi sekeras-kerasnya.
“WOI !! COPET !!!”, si pria itu berteriak sambil bergegas mengejar seorang anak kecil.
“hhh…hhh..”. Nafas Alfi terengah-engah karena terus berlari kencang dari tadi. Sambil membawa dompet hasil curiannya, Alfi terus berlari, langkah kaki kecilnya begitu pendek sehingga larinya sangat cepat. Matanya begitu cekatan memperhatikan orang-orang dan belokan-belokan serta gang-gang sempit. Hindar kesana kemari, belok sana sini hingga akhirnya Alfi menengok ke belakang, orang yang mengejarnya sudah tidak ada.
“haahh..”, nafasnya sudah terasa sangat berat dan kedua kakinya juga sudah terasa pegal. Alfi tahu dia tidak kuat berlari lagi. Alfi menengok ke kanan & kiri mencari tempat untuk sembunyi. Alfi menemukan sebuah tong. Alfi membuka tutup tong dan langsung masuk ke dalam tong itu.
“mana tuh bocah? cepet banget larinye…hhh”. Hati Alfi berdegup kencang mendengar suara orang yang sepertinya sedang mencarinya. Alfi berdoa ke Tuhan agar dia tidak ketahuan, badannya sampai gemetaran ketakutan.

Kejadian seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Alfi. Sudah biasa bagi Alfi berlari dari kejaran orang seperti ini. Alfi perlahan mengintip keadaan sekitar dari dalam tong. Sepertinya aman, bahkan tak ada orang sama sekali. Yakin sudah aman, Alfi pun perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan perlahan, Alfi berjalan keluar dari gang itu. Dompet yang tadi ia curi, sudah tersimpan dengan aman di dalam celananya. Meski sudah tak harus berlari lagi, Alfi masih tetap waspada memperhatikan sekelilingnya, takut orang yang tadi mengejarnya masih ada di sekitar situ. Orang-orang di pasar terlalu sibuk untuk memperhatikan tingkah laku Alfi. Dan lagipula, mungkin tidak ada yang menyangka kalau Alfi itu adalah pencopet ulung karena wajahnya yang polos & lugu. Alfi terus berjalan menuju tempat pertemuan biasa yang Alfi & Desi tentukan jika harus berpisah sewaktu-waktu. Alfi berjalan menyusuri taman dan melihat temannya, Desi, sudah menunggunya duduk di bangku taman.

“huffh..capek banget Des…”, kata Alfi duduk di samping Desi.
“yaudah bang Alfi istirahat aja dulu..”. Alfi mengatur nafasnya, dan Desi mengelap keringat Alfi yang bercucuran dengan sapu tangan lusuhnya. Tak ada rasa lain di antara mereka berdua kecuali rasa keluarga. Bagi Desi yang berumur 10 tahun, Alfi adalah sosok kakak yang selama ini tak pernah dimilikinya karena Desi adalah anak sebatang kara yang sejak bayi dibuang oleh kedua orang tuanya di kolong jembatan. Untung, seorang kakek menemukannya dan merawatnya bersama istrinya sampai sebesar sekarang. Alfi mengeluarkan dan membuka dompet hasil curiannya. Di dalam dompet itu ada sekitar Rp. 250000, belum pernah Alfi melihat uang sebanyak itu.
“banyak banget Des uangnya…”.
“iya bang…Desi belum pernah liat duit segini banyak…”.
“sama…”. Alfi mengambil 2 lembar 50000 yang ada di dompet itu.
“bang Alfi ngapain? nanti kalau ketahuan bang Badrun..kita bisa dipukulin…”.
“ah..gak apa-apa Des…ini buat beli makanan sama obat buat kakek…”.
“ngg…”.

“gimana..kamu setuju kan?”.
“ng..iya deh bang…”.
“nah…gitu dong…ayo Des…kita ke bang Badrun…ntar kalo lama-lama…kita disangka kabur…”.
“oh iya..ayo”. Alfi & Desi bangkit dari bangku taman, keduanya berjalan ke arah tempat Badrun biasa menunggu anak buahnya. Badrun adalah preman yang menjadi bos para anak gelandangan. Seperti bos anak jalanan lainnya, Badrun hanya tinggal menunggu saja sambil memperhatikan anak buahnya mengemis, mencopet, mengamen, cara apapun tidak masalah bagi Badrun, yang penting mereka semua kembali dengan uang sesuai setoran mereka masing-masing.
“lama banget lo bedua !!!”, muka Badrun sangat garang.
“kagak kerja lo bedua ?!”, ujar Edi, preman bawahan Badrun, sambil menoyor kepala Alfi.
“ng..nggak bang…kita cu..cuma..istirahat sebentar…”, jawab Alfi ketakutan.
“ah !! banyak bacot lo !! mane setoran lo !!!”, bentak Badrun.
“i…ini…bang..”. Muka garang Badrun tiba-tiba berubah jadi sumringah ketika membuka dompet yang diberikan Alfi.

“beh…banyak amat…tumben lo…”, Badrun mengambil semua uang yang ada di dompet itu termasuk recehannya sebelum dia membuang dompet itu.
“coba lo kayak gini terus…bisa kaya gue…hahaha !!”.
“nyopet dimana lo?”, tanya Ucok, bawahan Badrun lainnya.
“di..di pasar, bang..”.
“bagus..bagus..eh lo semua..contoh si Alfi !!!”.
“iya bang !!”, jawab anak jalanan lainnya secara serempak.
“nih…gue kasih lo bonus hari ini…”.
“makasih bang…”, kata Alfi seraya mengambil selembar Rp. 20000.
“udeh lo semua..sono..bubar ! bubar !!”. Mereka semua bubar diusir oleh Edi & Ucok. Alfi & Desi pun berjalan kembali ke rumah sederhana mereka.
“Assalamu alaikum…”.
“wa’alaikum salam…”.
“Nek..Alfi ama Desi udah pulang…”. Nenek keluar dari kamarnya.
“eh..kalian udah pulang..”. Alfi & Desi mencium tangan Nenek.
“iya, Nek…lagi banyak yang ngasih uang…”. Sebenarnya Nenek sedih sekali melihat kedua anak kecil itu karena masih kecil, tapi sudah harus bekerja sampai badan mereka berdua terlihat lusuh seperti itu.

Tapi, mau bagaimana lagi, Kakek sedang sakit, tak bisa berjualan tahu gejrot seperti biasanya.
“ayo Alfi..Desi…kalian mandi dulu sana…”.
“iya, Nek…”. Alfi & Desi bergantian mandi di kamar mandi mereka yang sangat sederhana itu. Air bersih yang tinggal sedikit mereka gunakan se-efisien mungkin. Rasa pegal yang tadi terasa di sekujur tubuh mereka berdua seolah hilang entah kemana. Kini, badan mereka segar sekali. Seusai mandi & berpakaian, Alfi & Desi segera masuk ke dalam kamar Kakek & Nenek untuk melihat keadaan Kakek.
“gimana, Kek? udah agak bae’an?”, tanya Desi, duduk di samping Kakek dan menggenggam tangannya.
“uhugh..uhugh…iya, Desi…kakek udah mendingan kok..”. Alfi juga ikutan duduk di samping Kakek.
“Nek, obat kakek udah abis belum?”.
“udah abis Fi…tapi udah gak apa-apa…kakek udah mendingan daripada kemarin…”.
“oh udah abis ya, Nek? kalo gitu..nanti malem Alfi beliin…”.
“lho? memangnya kamu duit darimana?”.
“ini, Nek…tadi Alfi nolong orang..terus dikasih uang…”, ujar Alfi menunjukkan 2 lembar Rp. 50000.

“bener kamu dapet uang ini…dikasih orang? kamu nggak nyopet lagi kan?”.
“iya, Nek…beneran…ini uang dikasih orang…”.
“o yaudah kalo gitu…”. Alfi terpaksa berbohong karena kalau tidak, Nenek tidak akan mau menerima uang Alfi. Padahal, Kakek butuh sekali obat itu. Malam hari pun menjelang, Alfi bersiap-siap untuk pergi membeli obat Kakek. Diambilnya gitar kecil yang selalu menemaninya di kala senang & susah itu. Gitar kecil yang diberikan Badrun secara cuma-cuma, tapi sebagai imbalannya Alfi harus menjadi anak buahnya.
“Nek…Alfi pergi dulu…”.
“iya…kamu ati-ati ya…abis beli obat..kamu langsung pulang ya…”.
“iya, Nek…”. Alfi mencium tangan Nenek dan menyelempangkan gitar kecilnya.
“bang Alfi tunggu !!!”.
“kenapa, Des?”.
“Desi ikut…”.
“jangan…kamu di rumah aja…temen nenek jagain kakek…”.
“iya Des…kamu di rumah aja..udah malem…”.
“yaudah deh…bang Alfi ati-ati ya…”.
“iya…assalamu’alaikum…”.

“wa’alaikum salam…”. Alfi berjalan menuju toko obat langganannya. Biasanya, Alfi harus menyisihkan upahnya & upah Desi untuk membeli obat tapi kali ini dia bisa langsung membeli obat setelah 2 hari yang lalu, dia sudah membeli obat. Alfi sebenarnya tidak enak juga membeli obat untuk kakeknya dengan uang dari hasil mencopetnya, tapi keinginan Alfi melihat kakeknya sembuh membuatnya menahan rasa bersalahnya. Alfi yakin Tuhan pasti mengerti alasannya menggunakan uang haram itu. Sambil terus berjalan, Alfi pun memainkan gitarnya, bersenandung sepanjang perjalanan untuk menghilangkan kebosanan karena berjalan sendirian di malam yang sunyi. Setidaknya, rasa kesepian Alfi terobati dengan gitarnya itu. Saat melewati pasar, Alfi melihat seorang anak kecil terjatuh.
“kamu gak apa-apa, De’?”.
“iya, kak..”.
“udah..udah jangan nangis…”.
“aduh..Gilang…kamu gak apa-apa? makanya kamu jangan lari-lari..”, kata ibu anak itu.
“terima kasih ya, De’..udah nolongin anak bapak..”.
“iya, Pak…kebetulan tadi saya liat anak bapak jatuh..”.

“adik sendirian? bapak ibunya mana?”.
“mm…ada, Pak..di rumah…”.
“lho…terus adik ngapain keluar malem-malem begini?”.
“oh…saya mau beli obat buat kakek saya, Pak…”.
“wah…adik ini kecil-kecil tapi perhatian ya sama kakeknya..”, kata si ibu mengelus-elus kepala Alfi.
“iya, bu…”.
“ini, De’…buat nambah beli obat..”.
“ng..nggak usah, Pak…terima kasih..”.
“udah, De’…nih ambil aja…”.
“aduh, Pak..bener…gak usah, Pak…”.
“udah De’..ambil aja…”.
“sekali lagi makasih ya De’…udah nolongin anak ibu…ayo Gilang..bilang apa ke kakak?”.
“kakak…makasih ya udah nolongin Gilang…”, kata anak itu.
“yaudah De’…kami permisi dulu ya..”. Keluarga itu berjalan menjauhi Alfi. Alfi tertegun melihat keluarga itu dari belakang. Kedua tangan anak itu dipegangi ayah & ibunya, tak ingin anak mereka jatuh lagi.
“Pah…Mah…”, tanpa sadar butiran-butiran air mata keluar dari sela-sela kedua mata Alfi.

Melihat keluarga yang harmonis & hangat itu, Alfi jadi teringat dengan orang tuanya. Sudah 3 tahun sejak kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya sehingga membuatnya yatim piatu dan menjadi anak jalanan seperti sekarang. Alfi selalu bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa dia selamat seorang diri. Tiba-tiba Alfi teringat keluarganya yang sekarang.
“oh iya…obat buat kakek…”. Alfi segera melanjutkan perjalanannya setelah menghapus air matanya. Alfi pun memainkan gitarnya lagi untuk menghilangkan rasa sedihnya tadi.
“koh Liong…”.
“eh lu olang Fi..mau beli obat biasa?”.
“iya koh..biasa buat kakek…”.
“tumben…balu kemalen lusa lu olang beli? tapi sekalang udah beli lagi?”, cakap Liong sambil mencari obat untuk Alfi.
“iya koh…tadi saya nolong orang…dikasih duit…yaudah..mendingan dipake buat beli obat…”.
“wah..lu olang emang benel-bener anak baek..dapet duit langsung dibeliin obat..”.
“iya koh…daripada buat jajan…”.
“nih Fi..obat lu…”.
“iya koh..ini uangnya…”.
“ya…ni kembalinya Fi…”.

“iya koh…makasih ya koh..”.
“ok Fi…ati-ati lu di jalan…”.
“assalamu’alaikum..”.
“wa’alaikum salam…”. Alfi menaruh gitarnya sebelum masuk ke kamar Kakek.
“Nek…nih obat kakek…”. Nenek keluar dari kamar untuk menyiapkan obat Kakek. Alfi duduk di samping Desi yang setia menemani Kakek. Mereka bertiga mengobrol dan kadang bersenda gurau. Kakek merasa senang sekali mempunyai 2 cucu yang sangat memperhatikannya meski secara teknis, Alfi & Desi bukan cucu kandungnya. Kakek & Nenek memang tidak mempunyai anak, mereka berdua menjalani hidup hanya berdua saja. Tak ada yang menolong mereka kecuali diri mereka sendiri. Sewaktu muda, Nenek masih bisa menjahit pakaian untuk menambah penghasilan. Tapi, kini mata Nenek sudah rabun dan tak bisa menjahit lagi sehingga hanya tinggal Kakek yang bekerja. Mereka bahagia sekali saat menemukan Desi karena impian mereka akhirnya terkabul yaitu menimang seorang bayi. Meski agak kesusahan dengan biaya, tapi mereka rawat Desi sampai sekarang dengan penuh kasih sayang.

“ini, Kek…obatnya..”. Alfi & Desi membantu Kakek bangun.
“makasih ya, Nek…”. Mereka semua berkumpul di kamar Kakek dan mengobrol. Awalnya Alfi memang benci kepada Tuhan karena telah mengambil nyawa kedua orang tuanya, tapi kini Alfi bersyukur mempunyai keluarga yang sangat hangat seperti ini meski bukan keluarga sebenarnya.
“ayo…ayo…Alfi..Desi…kakek mau tidur…”.
“yaudah, Kek..Alfi sama Desi keluar dulu ya…”.
“iya…”. Alfi & Desi masuk ke kamar mereka masing-masing. Begitulah kegiatan sehari-hari Alfi & Desi. Alfi sekarang sedang belajar membuat tahu gejrot karena dia sudah tak betah menjadi anak jalanan & dibentak-bentak Badrun setiap harinya. Alfi & Desi pun menjalani hari-hari seperti biasa. Mengamen, mengemis, dan kadang jika terpaksa Alfi mencopet lagi hanya untuk memberikan setoran ke Badrun agar tidak dibentak-bentak. Suatu hari, Alfi & Badrun terpaksa pulang malam, tidak seperti biasanya karena setoran mereka kurang dan Badrun memaksa mereka sampai setoran mereka terpenuhi.

“bang Alfi…kok rumah kita rame?”.
“oh iya…ayo Des…cepet…”. Bendera kuning di depan rumahnya menambah ketar-ketir hati Alfi.
“Fi…sabar ya…”.
“hah ??”.
“Nek…Nek !!”. Alfi terdiam, hatinya seperti tersambar petir. Kakeknya terbaring di tengah-tengah orang yang mengelilinginya.
“kakek !!!”, teriak Alfi & Desi langsung berlari dan memeluk Kakek.
“kakek…kakek…”, air mata mengalir deras dari mata Alfi & Desi.
“udah…Alfi..Desi…jangan nangis…kakek udah tenang…udah…udah…”.
“tapi…tapi, Nek…”.
“sshh…udah…udah…”. Desi kelihatan lebih tenang dan bisa menerima kepergian kakeknya. Alfi berdiri.
“Allah gak adil !!!”, teriak Alfi kencang sekali.
“Astagfirullah..”, jawab Nenek & lainnya secara serempak.
“istigfar Fi…istigfar…kamu nggak boleh ngomong gitu…”. Alfi tidak menjawab, dia malah berlari keluar.
“Alfi !!”. Beberapa orang berusaha mengejar Alfi, tapi tak terkejar karena lari Alfi begitu cepat.

Alfi sampai di tempat ia biasa gunakan untuk menyendiri.
“Ya Allah…kenapa Kau selalu mengambil orang yang kusayangi ? kenapa, ya Allah ?”. Tentu saja Alfi sangat sedih sampai marah-marah kepada Tuhan karena ini pukulan berat baginya. 2x kehilangan figur orang tua yang bisa Alfi jadikan panutan. Alfi berjalan tanpa tujuan, dia hanya mengikuti kedua kakinya saja yang melangkah entah kemana.
“tiiinn !!”. Alfi menengok ke kiri, cahaya terang menyorotnya.
“BRAAKK !!”. Alfi terlempar cukup jauh. Dua orang keluar dari mobil itu.
“Ya Allah, Pah…kita nabrak anak kecil…”.
“buka pintu, Mah…kita bawa ke rumah sakit…”. Bapak itu mengangkat Alfi yang sudah berdarah-darah masuk ke dalam mobilnya. Dengan perasaan sangat cemas, bapak itu menyetir ke arah rumah sakit terdekat.
“Dokter !! Dokter !!!”, teriak bapak itu saat masuk ke dalam rumah sakit sambil menggendong Alfi.
“nngg….”. Alfi membuka matanya, cahaya putih menyilaukan matanya, apa dia sudah berada di surga, pikirnya.

Akhirnya kesadaran Alfi mulai terkumpul, dia tahu ada orang yang memperhatikannya. Tapi, orang itu tidak berkata sepatah kata pun.
“bapak siapa ?”, tanya Alfi sangat pelan.
“sshh…kamu istirahat aja dulu…”. Alfi memang sudah sadar, tapi masih lemas. Keesokan hari, saat Alfi bangun, orang yang sama, memperhatikannya lagi.
“gimana, De’ ? kamu udah baikan ?”.
“iya..tapi bapak..siapa ?”.
“bapak..orang yang nabrak kamu…”.
“kenapa ya Allah…kenapa aku tak mati saja ?”, tanya Alfi dalam hati.
“maafin bapak ya De’…”.
“iya, Pak…”.
“Nenek ! Desi !”, tiba-tiba Alfi teringat dengan mereka berdua. Alfi berusaha bangkit sekuat tenaga.
“De’..kamu jangan banyak bergerak dulu…badan kamu masih lemes…”, kata ibu, istri dari bapak tadi.
“ta..tapi…nenek saya…adik saya…”.
“udah…kamu tenang dan istirahat dulu…”.
“maap De’…bapak mau nanya…kamu itu namanya…Alfi kan ?”.
“iya, Pak…tapi..?”.
“bapak tau dari gitar kamu…ini gitar kamu kan ?”.
“iya, Pak…”. Memang Alfi berjodoh dengan gitar itu, dalam keadaan begini pun mereka masih bisa bersatu.

“kenalkan bapak…Bambang…dan ini istri bapak…Astrid…”.
“maaf ya De’…kamu kenal bapak dan ibu dalam keadaan begini…”.
“iya, Bu…gak apa-apa…”.
“nah, De’..untuk urusan nenek dan adik kamu…bapak sudah suruh orang untuk memberi kabar…mungkin sebentar lagi mereka datang..”.
“saya sudah berapa hari di sini ?”.
“sudah 2 hari, De’…”, kata Astrid sambil membelai kepala Alfi.
“tok..tok…tok..”.
“nah…itu mereka…”. Bambang membuka pintu.
“ini, Pak…nenek dan adiknya mas Alfi…”, kata pria yang sepertinya supir Bambang.
“suruh mereka masuk, Jo…”.
“Pah…Pah…liat…kayaknya dia…”, bisik Astrid ke Bambang.
“bang Alfi…”. Desi berlinang air mata melihat Alfi yang terbaring lemah.
“bang Alfi..”.
“udah..udah Des…bang Alfi gak apa-apa kok…”.
“bener kamu gak apa-apa, Fi ?”.
“iya, Nek…Alfi udah gak apa-apa…Pak Bambang sama Ibu Astrid bawa Alfi kesini…jadi Alfi langsung diobatin…”.

“makasih Pak..Bu..udah nolongin Alfi…”.
“nggak, Nek…justru kami mau minta maaf udah nabrak Alfi…”.
“Ratna ?”, kata Astrid sambil memegang tangan Desi.
“bukan, Bu…nama saya Desi, Bu…”.
“benar kamu Ratna…”, Astrid mengecek tengkuk leher Desi dan menemukan tanda lahir yaitu berupa tahi lalat.
“bukan, Bu…saya Desi…bukan Ratna…”.
“bener…kamu Ratna…ini mama, Nak…”.
“nggak…Mama Papa udah meninggal…”.
“benar, Nak…ini mama…”.
“nggak !!”. Tiba-tiba Desi berlari keluar kamar.
“Ratna !!”.
“biar saya saja, Bu…”.
“nggak, Bu..biar saya saja…”, kata Bambang.
“mungkin Desi masih bingung…tapi apa benar Bapak sama Ibu ini orang tua Desi ?”. Bambang & Astrid menceritakan semuanya ke Nenek. Alasan mengapa sampai membuang Desi/Ratna juga mereka ceritakan ke Nenek.
“oo..jadi begitu ceritanya…yaudah..saya mau mencari Desi dulu…”. Nenek tahu kalau Desi tak mungkin lari jauh, Desi sedang duduk menangis di kursi tunggu dan ada seorang suster yang sepertinya sedang berusaha menenangkan Desi.

“Des…sudah…jangan nangis lagi…”.
“nenek ini neneknya anak ini…”.
“iya, Sus…saya neneknya anak ini…biar saya aja…”. Nenek pun duduk menggantikan suster.
“udah Des…jangan nangis lagi…”.
“tapi, Nek…kenapa mereka ngaku-ngaku papa sama mama Desi…bukannya mama sama papa Desi udah meninggal dari Desi kecil ?”. Nenek menceritakan semuanya ke Desi. Tidak bisa dihindari, Nenek harus menceritakan kenyataan pahit ke Desi, anak kecil yang baru berumur 10 tahun.
“kenapa, Nek ? kenapa mereka membuang Desi waktu kecil ?”.
“mungkin mereka bingung…ibu kamu masih muda waktu itu…tolong maafin mereka..mereka mau nebus kesalahan mereka…”.
“nggak mau, Nek…”.
“ckleek…”, Nenek & Desi kembali ke kamar Alfi.
“Ratna…maafin mama..”, Astrid berlutut di depan Desi memeluk Desi.
“maafin papa juga, Ratna…”.
“…”.
“tolong maafin mama…mama janji bakal ngerawat kamu dan gak bakal sia-siain kamu lagi…”.
“tolong, Ratna…mau kan kamu ikut pulang ke rumah ?”.

“Desi mau pulang kalo bang Alfi sama Nenek juga ikut..”.
“Nenek sama Alfi bukan keluarga kamu…Pak Bambang & Bu Astrid yang keluarga kamu sebenarnya…”, jawab Nenek.
“tapi Desi gak mau ikut kalo gak ada Nenek & bang Alfi…”.
“ayo Nek…ikut tinggal di rumah kami…tentu Nenek sudah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri…”. Setelah dibujuk Bambang & Astrid, akhirnya Nenek pun setuju untuk ikut.
“bang Alfi gimana ? mau kan ikut Desi ?”.
“kalo Nenek ikut..bang Alfi juga ikut..”. Alfi, Nenek, Desi, Astrid, dan Bambang menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Astrid & Bambang merawat Desi sebaik-baiknya. Dan Alfi pun juga sudah mereka anggap seperti anak kandung mereka sendiri. Astrid & Bambang benar-benar bahagia karena setelah membuang Desi, entah kenapa Astrid tidak bisa mempunyai anak lagi, tapi kini mereka malah mempunyai 2 anak sekaligus yang sama-sama pintar & periang serta ada Nenek yang begitu menyayangi mereka. Desi telah berganti nama menjadi Ratna Herlina Sari, nama sebenarnya.

Sedangkan, Alfi kini bernama Alfiansyah Reza Saputra. Keduanya, kini bisa menuntut ilmu dengan pantas, kepintaran mereka berdua merupakan berkah, mereka bisa mengejar ketertinggalan mereka dalam waktu singkat. Alfi pun menyadari semua kejadian pasti ada hikmahnya, kalau saja kakeknya tak meninggal dan ia tak kabur, mungkin semua ini takkan terjadi.
“Bapak yakin mau turun disini ?”.
“ya, saya mau nemuin teman-teman saya…”. Pria berpakaian rapih itu turun dari mobil dan berjalan melewati pasar.
“iya, Pak…mau beli apa ?”.
“ini…saya mau beli obat ini…”.
“hmm…obat ini kayaknya udah lama gak dijual lagi…”.
“tolong, Ci…saya butuh obat ini…”.
“sebentar, Pak…mungkin Papi saya tau…”.
“maap, Pak…obat ini udah nggak ada lagi tuh…Bapak tau obat ini dali siapa ?”.
“koh Liong nggak kenal saya ?”.
“mm…”.
“ini saya koh…Alfi..”.
“Alfi ?!”.
“iya koh…Alfi..cucunya Kek Darmin…cucunya Nek Tika…”.
“Alfi ! ya ampun, Alfi ! lu udah jadi olang sukses sekalang !! pantes aja..tadi owe kayak kenal !!”.

Mereka berdua mengobrol bagai teman lama. Selain koh Liong, Alfi menemui orang-orang yang menolongnya saat dia masih kecil dulu. Setelah menemui semua orang yang dia kenal, Alfi kembali melewati pasar. Dia melihat ada 2 anak kecil, laki-laki & perempuan sedang mengaduk-aduk sampah.
“De’…kenapa ngaduk-ngaduk sampah…”.
“mau cari makanan…”, kata anak laki-laki.
“yaudah..ikut Om yuk…kita makan…”.
“nggak, Om…”. Si anak perempuan kelihatan ketakutan.
“udah…nggak usah takut…Om cuma mau traktir makan…ayo ikut Om….”.
“gak apa-apa, Om ?”.
“iya gak apa-apa…ayo…”. Alfi & kedua anak itu pun makan di sebuah restoran. Kedua anak itu makan dengan sangat lahap. Alfi senang memandang kedua anak itu makan dengan lahap. Kedua anak itu mengingatkan masa lalu Alfi dengan Ratna.
“gimana, enak ?”.
“enak Om…kenyang…”.
“syukur…”.
“makasih banget ya Om…”.
“iya…”.
“ayo Ndah…bilang apa ke Om…”.
“ma…makasih..Om…”.
“iya…”, kata Alfi membelai kepala Indah.

“oh ya…cita-cita kalian apa ?”, tanya Alfi setelah mengobrol dengan kedua anak itu.
“wah kalo Joko sih pengen jadi pemain bola…kayak Bambang Pamungkas…”.
“wah..bagus itu…”.
“iya…hehe…kalo Om cita-citanya apa ?”.
“oh kalo Om sih ingin buat yayasan yatim piatu…”.
“wah…Om emang bener-bener orang baik ya…”.
“nah kalo Indah…cita-citanya apa ?”.
“Indah…Indah…”.
“ya ?”.
“Indah…cuma pengen sekolah…”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: