Pendeteksi Tsunami Murah

MEMBUAT alat deteksi tsunami ternyata tak harus mahal, bahkan cukup hanya bermodalkan Rp 120.000,00. Prestasi itu ditorehkan tiga siswa SMA Pribadi Jln. Ranggamalela, Kota Bandung. Atas hasil karya tersebut, mereka berhak mendapatkan medali emas pada Olimpiade Peneliti Muda Internasional (International Young Inventors Project Olimpiad/ IYIPO) di Georgia pada tahun 2007.

Tim SMA Pribadi terdiri atas tiga siswa, yakni Muhammad Yusuf Ritonga (16), Muhammad Dhika Ramadhan (16), dan Adi Dharma Sudrajat (17).

Mereka terinspirasi membuat detektor tsunami setelah membaca maraknya gempa dan gelombang tsunami di Indonesia. “Ide berasal dari pemberitaan tsunami baik di Aceh, Pangandaran Ciamis, Cilacap, dan tempat-tempat lainnya,” kata Dhika didampingi Yusuf di kampus SMA Pribadi, Kamis (13/3).

Untuk membuat alat deteksi tsunami, kata Dhika, mereka cukup berburu alat-alat yang diperlukan di toko elektronik yang banyak terdapat di Kota Bandung. “Ukuran alatnya 20 cm x 30 cm sebagai alat deteksi tsunami yang ditempatkan di lautan. Alat ini juga mengirimkan pesan melalui gelombang radio ke alat penerima yang diletakkan di pinggir pantai,” ucapnya.

Pendeteksi tsunami tersebut, kata Dhika, bisa diubah sensitivitasnya terhadap tinggi gelombang laut, yang kemudian akan menyalakan alat penerima berupa alarm atau lampu. “Tinggi gelombang laut yang bisa menimbulkan tsunami adalah 10 meter. Kami sudah melakukan percobaan dengan tinggi gelombang antara 3 sampai dengan 4 meter, dan jarak ke alat penerima mencapai 200 meter. Alhamdulillah percobaan berhasil,” ucapnya.

Dhika dkk. sudah membuat dua buah prototipe alat deteksi tsunami tersebut, salah satunya dibawa ke Georgia saat mengikuti IYIPO tahun 2007, beberapa bulan lalu.

“Ketika masuk ke Bandara Georgia, kami tak mendapat masalah, padahal alat deteksi dibawa ke kabin pesawat. Namun, ketika mau pulang, alat disita aparat Imigrasi Georgia karena tidak boleh masuk ke kabin pesawat,” katanya.

Sedangkan, prototipe yang satunya lagi, disimpan di Kantor Pusat Pasiad (Lembaga Pendidikan Indonesia-Turki) di Jakarta.

Dengan biaya hanya Rp 120.000,00, pendeteksi tsunami tersebut terbilang sangat murah dibandingkan dengan rencana pemerintah Indonesia yang akan membeli alat deteksi tsunami dengan anggaran Rp 1,2 triliun.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengunjungi korban tsunami di Cilacap, Jawa Tengah dua tahun lalu, Presiden mengungkapkan pemerintah telah berkomunikasi dengan DPR RI untuk mengajukan dana sebesar Rp 1,2 triliun, untuk membeli alat deteksi tsunami.

Ketika ditantang kesanggupan mereka untuk membuat alat deteksi tsunami apabila pemerintah memesannya, Dhika dan Yusuf spontan menyatakan kesanggupan untuk memenuhinya. “Kalau pemerintah meminta alat deteksi tsunami dalam jumlah besar, maka kami siap untuk membuatkannya,” katanya. (Sarnapi/”PR”).

sumber : Pikiran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: